Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Keterkejutan

Kita tentu mengalami suatu pengalaman keterkejutan. Terkejut memperoleh hadiah. Terkejut disapa oleh tokoh idola kita. Terkejut karena dikabulkan doanya...dan masih banyak lagi keterkejutan. Adalah mekanisme psikologis dimana adanya kebaruan kesadaran, yang biasanya disertai atau diikuti rasa takut. Penginjil Lukas menampilkan kepada kita pengalaman keterkejutan karena didatangi Malaikat. Zakaria yang “…terkejut dan menjadi takut” (Luk 1:12). Maria juga setelah mendengar salam damai dari Gabriel, “... terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu” (Luk 1:29). Ada yang membedakan keterkejutan Zakaria dan Maria. Zakharia, yang ketika terkejut disertai dengan ketakutan dan hanya melihat kesulitan belaka. Sementara Maria yang meskipun terguncang batinnya tetap  berani bertanya pada diri sendiri, memikirkan dan mencari makna kata-kata sang malaikat. Kehidupan Maria memang sebuah kehidupan untuk menemukan arti salam dari Malaikat Gabriel, mes...

Mengenal Solidaritas Allah dalam sikap SP Maria

Luk 1:39-56 Hari ini adalah hari raya St. Perawan Maria diangkat ke surga. Pernyataan bahwa Maria diangkat ke surga rasanya hingga sekarang selalu mengundang tanya banyak orang: siapakah Maria sehingga ia diangkat kesurga? Apa maksudnya pernyataan itu? Injil yang baru saja kita dengarkan menawarkan kepada kita sebuah peristiwa bahwa Maria mengunjungi Elisabet saudarinya. Apa maksud peristiwa itu? Pada kesempatan kali ini, di HR SP Maria diangkat ke surge, saya tertarik untuk mengajak saudari dan saudaraku untuk memandang peristiwa itu sebagai saat epifani. Ada dua pertanyaan: 1) Mengapa sebuah saat EPIFANI? Kita tahu bahwa Epifani adalah sebuah penampakan Tuhan, dalam konteks ini adalah sebuah penampakan Tuhan kepada Elisabet. Kita mendengar: Maria masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus. Adalah sebuah pertemuan yang bukan biasa-biasa saja, ...

Ia memikul beban itu bersama dengan kita

Matius 11:28-30 Salah satu kebutuhan utama manusia adalah ketenangan dalam hidupnya. Ada di dalamnya rasa aman, nyaman, gembira dst. Dan kebutuhan itulah yang dicermati oleh Yesus dalam perikop singkat dari Injil hari ini. Tetapi, yang menarik di sini bahwa Yesus menawarkan ketenangan dengan cara memikul kuk. Kuk adalah balok kayu yang ditaruh atau diletakkan di atas pundak sapi atau lembu untuk menarik sesuatu. Dengan menggunakan kuk, sapi atau lembu dapat dipakai untuk membajak sawah, menarik gerobak, dan lain-lain. Berbicara tentang kuk yang ditawarkan oleh Yesus, mungkin terlintas di pikiran kita suatu beban, kesulitan, masalah…sehingga mudah sekali kita mempertanyakan: bagaimana mungkin seseorang dapat merasa tenang ketika berada dalam masalah atau ketika memiliki beban. Undangan Yesus adalah: “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (ay 28). Rasanya menjadi sebuah undangan yang tak akan pernah usang ditelan zaman. Undangan ...

Menjadi semakin beriman dan semakin pendoa

Rm. Anselmus di basilika St. Petrus  Markus 9:14-29 Rasanya Iman dan Doa adalah dua hal yang semestinya selalu ada bersamaan yang semestinya ditempatkan pada tempatnya dengan benar. Ketika dua elemen penting ini (iman dan doa) tidak ada dalam kehidupan seseorang, atau dalam sebuah keluarga, atau sebuah komunitas religius; atau dalam sebuah lingkungan, wilayah bahkan paroki: apa yang akan terjadi? Ada yang mengatakan "Terbukalah lebar pintu dan jendela bagi setan, bagi yang jahat, bagi dosa, sehingga masuk dan merusak hidup orang itu, keluarga itu, komunitas itu. Mulai saat itulah, setan yang akan menjadi tuan atas semua. Secara rohani orang itu akan merasakan yang namanya sakit dan penderitaan, dan tidak menutup kemungkinan akan berdampak kepada fisik dan emosionalnya". Kegagalan para rasul, yang tidak mampu untuk mengusir setan berasal dari alasan yang sama: kurangnya iman dan kurangnya doa. Kita tahu bahwa doa mengungkapkan ketergantungan manusia pada Allah dan kepercay...

Menjadi gembala bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain

Yohanes 10:27-30 Hari ini adalah HARI MINGGU PASKAH IV, Gereja mendedikasikannya sebagai hari Minggu Panggilan. Suatu hari Minggu yang menandai adanya gerakan doa bersama, bersyukur dan memohon kepada Allah: Panggilan Imam, Bruder dan Suster untuk menjadi pekerja di kebun Anggur Tuhan. Kita ingat bahwa Paus Paulus VI menyatakan bahwa panggilan itu sendiri berhubungan langsung dengan kehidupan seluruh umat beriman, katanya: ”di mana dapat ditemukan banyak panggilan imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang yang menghayati injil dengan tulus.” Panggilan yang subur di suatu tempat menjadi indicator dinamika kehidupan iman, harapan dan kasih dari setiap umat di tempat itu, baik itu sebagai lingkungan, wilayah, paroki maupun keuskupan, dan sekaligus menjadi bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Hari ini, melalui Injil Yohanes 10:27-30, Yesus berbicara tentang Gembala yang baik. Ide tentang Gembala yang baik, rasanya masih faktual di zaman ini, meski terkesan musta...