Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Untuk Apakah Kamu Pergi?

Lukas 7:24-26 Itulah pertanyaan Yesus secara berulang-ulang sampai tiga kali kepada orang banyak tentang Yohanes. Yesus mengajak orang banyak untuk mempertegas tujuan mereka atas penyelamat yang dirindukan. Bagi kita, pertanyaan itu kiranya juga sangat relefan. "Untuk apakah kita pergi kepada Tuhan?" Sebagian besar dari kita tentu hendak mencari jawaban-jawaban menurut situasi hidup masing-masing: untuk mencari damai, ketenangan, kesembuhan, rejeki, jodoh dst..... Setiap orang mempunyai harapan bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi dirinya. Bahkan ada yang mengharapkan lebih. Demikian pun orang banyak ketika mereka menyambut Yohanes Pembaptis. Tetapi ketika melihat kenyataan bahwa yang diinginkan tidak sesuai dengan yang dipikirkan, maka sirnalah harapan itu. Hal itu tampak ketika Yohanes Pembaptis tampil dengan pakaian yang hanya terbuat dari kulit binatang, rumahnya di hutan pula dan makanannya ngengat madu, mulailah sirna harapan orang banyak itu. Oleh sebab i...

Bukan hanya PERCAYA

Dewasa ini, tak sedikit orang yang PERCAYA kepada Yesus, pada sabda, pengajaran dan karya-Nya. Namun apakah mereka MENGIMANI pribadi dan sabda, pengajaran dan karya-karyaNya? Tak jarang orang yang mengikuti Yesus masih dengan penuh perhitungan (untung rugi, nyaman dan tidak nyaman). Oleh sebab itu, mari....kita belajar dari kedua orang buta dalam bacaan Injil hari ini (Mat 9:27-31). Betapa besar kerinduan hati dua orang buta dalam injil hari ini. Kerinduan itu tampak dalam keterbukaan dan kepercayaan mereka pada Yesus saat berseru minta bantuan. Mereka mau mengikuti Yesus hingga ke rumah tempat Yesus singgah. Kesediaan mau ditolong oleh Yesus itu sungguh-sungguh tampak dalam diri mereka. MENGIMANI Yesus berarti mengikuti Yesus tanpa perhitungan apa pun lagi. Seperti kedua orang buta itu, membiarkan Yesus bekerja dalam diri mereka sepenuhnya tanpa ragu, sehingga mata mereka menjadi melek (terbuka). Dinamika beriman selanjutnya tampak dalam keputusan atau pilihan sikap dan tindakan me...

Berdoa dan Bekerja

Team Sepak Bola Seminari sedang berdoa sebelum bermain "Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu, Tuhan! Tuhan!, akan masuk Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Allah" (Mat 7:21). BERDOA dan BEKERJA dengan tulus, itulah yang diteladankan oleh Beato Dionisius dan Redemtus (biarawan dan martir), kedua tokoh iman yang kita peringati hari ini. Keduanya berasal dari dinas militer Portugis sebelum mereka memutuskan untuk menjadi pelayan Tuhan. Pilihan hidup Dionisius menjadi seorang imam dan Redemtus menjadi seorang burder merupakan suatu jawaban mereka atas Tuhan yang mengundang untuk melaksanakan kehendakNya. Keduanya adalah misionaris yang menjadi martir di Indonesia, tepatnya disiksa dan dibunuh di Aceh. Nabi Yesaya berseru kepada Tuhan: "Engkau menjaga orang yang teguh hatinya dengan damai sejahtera, sebab ia percaya kepadaMu". Tuhan Yang Mahabelaskasih, murah hati, peduli pada setiap seruan umat-Nya juga meminta sikap agar tak sekadar berseru d...

Dia yang Tergantung

Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Biasanya orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah, hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar. Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus. Pada suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus. Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, "Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun." Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku d...

Maria Dikandung tanpa Noda

Add caption Itulah ajaran yang berkembang dalam tradidi conceptio virginalis (dikandungnya Yesus oleh Perawan). Tekanan pertama adalah Yesus dan bukan Maria, meski harus diakui bahwa ajaran ini menyebut sesuatu (keperawanan) tentang Maria. Sebagai Perawan (Yun-Partheos) maria mengandung dan melahirkan (menjadi ibu) Yesus. Di sinilah letak keperawanan Maria. Mateus menyebut, Ketia Ibu Yesus bertunangan dengan Yusuf, ia kedapatan mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka berkumpul - secara resmi menikah (Mat 1:18). Secara manusiawi, maria juga bergulat. Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak (belum) mengenal laki-laki (Luk 1:34). Maria berpikir bahwa ia akan mendapatkan anak setelah meniukahnanti, dan bukan sekarang. maria melahirkan Yesus sebagai perawan, sebab manusia Yesus Kristus tidak mempunyai ayah manusia (secara biologis). Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu (Luk 1:38). Itulah ungkapan kerelaan diri dan seluruh hidup matia. Ia mengiyakan maksu...

Pelayanan dan Kredibilitas Paulus

Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai (1 Kor 4:1-2). Pelayanan dan kredibilitas itu memiliki ikatan yang seharusnya tak terpisahkan. Seorang pemimpin yang baik mesyaratkan harus memiliki jiwa yang melayani dan dapat dipercaya. Orang yang dapat dipercaya berarti Orang yang kata-kata dan janjinya dapat dipegang (tidak mencla-mencle=Jawa). Seorang pemimpin yang dapat dipercaya, ia akan menjadi pemimpin yang dapat melayani dengan setia. Oleh sebab itu, seorang ”oportunis” kiranya akan mengalami kesulitan besar dan bisa jadi tidak mungkin akan menjadi pemimpin yang baik. Betapa pun cerdik, lincah dan lihainya ia bermanuver serta membaca arah angin! Sebab ia pasti bukan seorang pelayan yang setia. Ujung-ujungnya yang dituntut adalah setia. Terdengar begitu sederhana. Namun dalam kenyataan, alangkah sulitnya menca...

“Aku terbakar habis oleh kasih kepada Tuhan dan oleh kasih kepada sesamaku”

Hag 2:1b-10; Luk 9:18-22 St. Padre Pio dilahirkan tahun 1887, anak kelima dari delapan bersaudara, dari keluarga petani Grazio Forgione dan Maria Giuseppa De Nunzio. Ia dianugerahi penglihatan-penglihatan sejak usia lima tahun, dan sejak usia dini telah memutuskan untuk mengabdikan hidupnya bagi Tuhan. Padre Pio masuk biara Kapusin Fransiskan tahun 1903 dan ditahbiskan sebagai imam tahun 1910. Katanya, “Aku terbakar habis oleh kasih kepada Tuhan dan oleh kasih kepada sesamaku.” Pada tanggal 5 Agustus 1918, Padre Pio mendapat penglihatan: ia merasa dirinya ditikam dengan sebilah tombak; sesudahnya luka akibat tikaman tombak itu tinggal pada tubuhnya. Kemudian, pada tanggal 20 September 1918, saat ia memanjatkan syukur sesudah perayaan Misa, ia juga menerima luka-luka Tuhan kita di kedua kaki dan tangannya. Setiap hari, Padre Pio kehilangan sekitar satu cangkir darah; luka-luka itu tidak pernah menutup ataupun bertambah parah. Pula, bukannya bau darah, melainkan bau harum yang semerb...

Memilih Berarti juga Meninggalkan

Ef. 4:1-7,11-13; Mat. 9:9-13 Matius Rasul, dalam Perjanjian Baru dikenal sebagai: anak Alfeus. Tiga Injil pertama menyebut sebagai PEMUNGUT CUKAI di pelabuhan Kapernaum. Markus memanggilnya LEWI anak Alfeus. Lukas memanggilnya LEWI. Dalam bahasa Ibrani kuno (Aram) – Anugerah Yahwe.Sebagai pemungut cukai, berarti Matius adalah orang penting, berpendidikan, pintar berhitung, bias berbahasa Aram dan Yunani. Ia meninggal di Etiopia sebagai Martir.  Pilihan Yesus atas diri Matius untuk menjadi rasul adalah sebuah teka-teki pada zamanya. Pada abad pertama di Israel, para pemungut cukai tidak memiliki status dalam masyarakat Yahudi. Mereka dihina karena mereka bekerja untuk kekaisaran Roma. Di sisi lain pilihan Matius atas diri Yesus juga sama penuh teka-tekinya. Perubahan dirinya yang secara mendadak, dari seorang pemungut cukai yang tidak patut dipercaya menjadi seorang murid yang penuh gairah tentunya mengejutkan setiap orang yang mengenalnya. Mengapa dia mau melepaskan pekerjaan...

Jalan Keheningan

Pesta St. Bernardus Rut. 2:1-3,8-11;4:13-17; Mat. 23:1-12 Bersama dengan seluruh Gereja kita memperingati St. Bernardus seorang Abas dan Pujangga Gereja. Ia lahir pada tahun 1090 di Perancis. Ia sangat denkat dengan ibunya. Oleh sebab itu, sepeninggal ibunya, Bernardus menjalani gaya hidup yang tidak teratur selama beberapa tahun. Namun kemudian ia bersama teman-temannya masuk biara pertapaan. Walaupun ditentang oleh keluarganya, ia tetap pada pendiriannya. Ia menjadi seorang yang saleh dalam pertapaan. Bahkan karena kesalehannya, ia ditugaskan untuk mendirikan sebuah biara pertapaan baru. Biara itu diberinya nama pertapaan Clairvaux. Ia dikenal sebagai seorang pewarta, pembawa damai dan penggerak kebenaran. Ia meninggal tahun 1153. Bernardus menyadari betul bahwa orang bisa jatuh dalam dosa dan dalam perilaku yang hanya mementingkan diri seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan Ahli Taurat. Hidup kita malah menjadi beban bagi orang lain. Apa yang kita lakukan bukan membawa...