Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Belajar dari Perkara Kecil

Minggu Biasa XXXIII Mat 25:14-30; 1Tes 5:1-6 Menjelang akhir Tahun Liturgi, Gereja selalu mengingatkan kita akan hari kedatangan Tuhan. Melalui St Paulus kita diingatkan, “...kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri di waktu malam” (1Tes 5:2). Tetapi, meski kita mengetahuinya dan selalu diingatkan, kadang kesibukan hidup kita tak memberikan peluang untuk memikirkannya. Bahkan mungkin tak lagi terngiang kata-kata Tuhan ini, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua yang lain akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33). Pada hari ini, Yesus mengajar melalui perumpamaan. Tiga orang hamba diberi "modal" sebesar lima talenta, dua talenta dan satu talenta. Setiap orang diberi talenta agar bersiap diri menyambut Allah yang datang meraja. Maka dapat dimengerti, bila dua hamba yang baik dan setia segera ‘pergi’ untuk mengembangkan talentanya. Kala Tuhan datang, mereka telah melipatgandakan talentanya; bukan untuk kepentingan pribadi, tapi demi...

Pesta Pemuliaan Salib Suci

Simbol dari kasih bukanlah hati melainkan salib. Sebab hati suatu saat akan berhenti detaknya, tetapi Manusia yang tersalib itu tidak akan berhenti mengasihi. Bil 21,4-9; Fil 2,6-11; Yoh 3,13-17 Hari ini kita merayakan pesta Pemuliaan Salib Suci. Mengapa menggunakan kata PEMULIAAN? Jelas bahwa dengan kata pemuliaan, salib tidak ingin dihadirkan kepada seluruh umat beriman dengan aspek penderitaan, keras dan beratnya hidup, atau sulitnya mengikuti Kristus. Tetapi, salib hadir sebagai sumber yang membanggakan dan yang membesarkan hati. Secara historis, pesta ini juga mau mengingatkan kita tentang dua peristiwa besar dalam sejarah iman Kristiani. Pertama, adalah peresmian dua basilika pada tahun 325 oleh Kaisar Konstinus (di Golgota dan di Makam Yesus). Kedua, kemenangan Kristen atasPersia (abad VII) yang diartikan kembalinya salib dari tangan Persia ke Yerusalem. Seni Romawi Kuno Lebih dari itu, pesta ini merupakan ungkapan iman Gereja terhadap Salib Yesus sebagai jalan kesela...

Ada Mujizat dalam Iman yang Hidup

Santuario: Madonna del Divino Amore Tampak ada banyak tanda terima kasih tertempel di dinding. Mereka telah mengalami mujizat, melalui iman yang hidup dalam kesetiaan doa mereka. MINGGU BIASA XX (A), 2014 Matius 15:21-28 Sabda Tuhan hari ini, khususnya Injilmengajak kita untuk merenungkanpertemuan antara Yesus dan perempuan Kanaan yang tinggal di tempat yang dianggap haram. Wanita itu mengambil inisiatif dan memohon Yesus untuk menyelamatkan putrinya yang kerasukansetan, atau dengan masalah psikologis yang serius. Dia berseru, "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." (Mat 15:22). Kita bisa membayangkan situasi putri dari perempuan Kanaan itu. Katakanlah sebagai seorang gadis yang murung, yangtidak bahagia dengan hidupnya, danbahkan mungkin kadang-kadang menangis atau berteriak kesal. Saya pikir, kondisi seperti ini secara kebetulan pernah kita jumpai pada salah satu keluarga. Tapi bagaimana reaksi Yesus? Dikis...

Yesus Amat Dekat dengan Kita

Matius 13:10-17 Siapakah orang yang terdekat di dalam hidupmu? Sebuah pertanyaan yang sederhana. Tentu masing-masing orang memiliki jawabannya. Ada yang menjawab: ibu, karena merasakan betapa sabar, lembut dan ramah. Ada yang yang menjawab: ayah, karena merasakan betapa hangat sapaannya. Ada yang mengatakan: adik, karena merasakan betapa imut dan menggemaskan. Ada yang mengatakan: istri, karena merasakan betapa perhatiannya, dan seterusnya. Ilustrasi: salah satu aktivitas para siswa Sekolah Dasar selama musim panas,  di Messina, Sicilia, ROMA Yesus pun dekat dengan para murid-Nya. Bahkan terkesan Ia sangat mengistimewakan mereka.Kedekatannya tampak ketika Yesus mengajarkan banyak hal secara terus terangkepada mereka. Lalu apakah para murid juga sangat dekat dengan Yesus? Tampaknya para murid pun dekat dengan Yesus, bahkan amat dekat. Mereka mengenal-Nya dan mengerti misi dan visi-Nya, yaitu mewartakan Kerajaan Allah. Dengan demikian, Yesusmemberikan kepercayaan mengutus para m...

Saya harus Memilih

Matius 13, 24-43 Rasanya, perumpamaan tentang gandum sebagai benih yang baik dan ilalang sebagai benih yang jahat, sering dipakai untuk mengkontraskan antara orang-orang benar dan orang-orang jahat. Dengan demikian tentu dengan mudah kita akan menempatkan diri dalam kategori gandum dan bukannya ilalang. Semoga tidak demikian. Melalui perumpamaan tentang gandum dan ilalang, Yesus justru mau mengajar agar kita senantiasa rendah-hati dan tidak mudah menghakimi orang lain sebagai kelompok ilalang. Karena bisa saja terjadi sebaliknya. Kita yang menggolongkan diri sendiri sebagai gandum ternyata justru kita sebagai ilalang. Ladang Gandum Ilalang dan gandum adalah dua tanaman yang hampir mirip, tetapi sebenarnya sangat berbeda. Gandum adalah suatu jenis tanaman yang dapat menjadi makanan pokok, yang banyak berguna bagi manusia, sedangkan ilalang adalah suatu jenis tanaman yang amat sedikit kegunaannya. Bahkan ilalang memiliki sifat menghisap persediaan makanan dan merusak suatu ...

Anda dan saya adalah Gembala sekaligus Domba

Add caption Yohanes 10:1-10 Yesus sebagai Gembala, merupakan gambaran yang sangat indah, yang melukiskan kebaikan Tuhan yang menjaga dan yang melindungi kita. Dalam Perjanjian Lama,Pemazmur menggambarkan Tuhan sebagai Gembala dan umat-Nya adalah kawanan dombanya (cfr. Mzm 23). Para raja dan imam juga dilukiskan sebagai gembala, di mana Allah menugaskan mereka untuk menjaga dan memimpin umat-Nya.  Yehezkiel menubuatkan kedatangan gembala yang baik, yang akan melindungi kawanan dombanya (Yeh 34). Tetapi melalui Yeremia, Allah juga memperingatkan umat akan adanya gembala- gembala yang tidak baik (cfr. Yer 2:8), yang mengakibatkan domba tercerai berai. Maka Yeremia atas nama Allah menjanjikan datangnya gembala- gembala yang baik dari keturunan Daud (cfr. Yer 23:1-6; 3:15; 10:21; Is 40:1-11). Yesus adalah penggenapan nubuat ini (cfr. Luk 15:4-7). Hari ini melalui Injil Yohanes, Sabda Tuhan mengingatkan kita akan peran Yesus sebagai Gembala yang baik itu, sebagai penggenapan ata...

Kekuatan dari Pengampunan

Ulangan 26:16-19; Matius 5:43-48 Hari ini, penginjil Matius mengingatkan saya akan kekuatan pengampunan dan belas kasih Alah. Allah itu begitu baik dan adil bagi orang benar maupun yang tidak benar, orang berdosa maupun orang yang saleh. Allah juga melihat setiap kebaikan kita dan mengajarkan kita untuk memberikan kebaikan itu kepada orang lain – bahkan kepada mereka yang membenci kita, bahkan bagi mereka yang tidak tahu berterima kasih dan egois. Bila itu dapat kita lakukan, pada saat itu juga kita menampakkan kebaikan dan rahmat, seperti yang Allah tunjukkan kepada kita. Rasanya lebih mudah untuk menunjukkan kesalahan dan keburukan orang lain. Agak susah menunjukkan kebaikan dan kemurahan hati. Ampuni saya Tuhan yang mudah menunjuk kekurangan sesama, sering menyakiti, memusuhi dan kurang tahu berterimakasih. Ajariku untuk selalu berdoa bagi mereka yang menyakiti saya. Ajariku untuk memaafkan dan mengampuni kesalahan sesama, dan tidak melkukan balas dendam. Beri hatiku kekuatan k...

Kita telah Menjadi Garam dan Terang

Matius 5:13-16  Jika kita menyimak fenomena hidup di sekitar dengan segala tantangannnya, sering muncul ungkapan: dunia ini serasa gelap. Gelap mau mendifinisikan situasi yang memprihatinkan, diwarnai dengan kebohongan, kekerasan, kejahatan, kekejaman dan sejenisnya. Juga tak jarang orang megatakan bahwa dunia ini serasa hambar, tak berasa. Hambar mau mendifinisikan situasi sulit untuk mengalami rasa aman, damai, gembira, semangat dan sejenisnya. Situasi demikian tampaknya juga sudah terjadi pada masa hidup para murid Yesus. Oleh sebab itu Yesus memanggil para murid untuk menghadapi situasi itu. “Kamu adalah garam dunia” (ay 13) dan “Kamu adalah terang dunia” (ay 14). Pernyataan Yesus ini jelas menyatakan bahwa mereka sudah menjadi garam dan terang dunia dan selayaknya mereka memiliki pola kehidupan sebagai garam dan terang dunia. Yesus menyampaikan perumpamaan yang dapat dengan mudah untuk dimengerti oleh para murid. Pertama tentang garam. Sesuatu yang amat dekat dengan hidup man...

Berkata Benar

Markus 6:14-29 Setiap orang memiliki keinginan yang besar untuk melakukan apapun yang terbaik. Keinginan yang besar seperti itulah yang mampu mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik pula. Tetapi keinginan menjadi buruk ketika seseorang dikuasai oleh egonya. Herodes sebagai sosok pemimpin telah dikuasai oleh egonya yang berlebihan. Ia mengambil apa yang bukan menjadi miliknya. Ia mengambil Herodias, istri Filipus saudaranya. Ia ingin menyingkirkan siapa saja yang bertentangan dengan pemikirannya, pandangannya dan apapun yang dianggap mengganggu dirinya. Itulah sikap Herodes yang terjadi pada zaman yang telah lalu. Karena itu ia ditegur oleh Yohanes Pembabtis. Apakah sikap seperti itu terjadi di zaman kita sekarang ini? Di tengah masyarakat umum saat ini? Atau mungkin juga di antara kita pada hari ini? Kita lah yang bisa melihat, merasakan dan menamainya. Jika itu terjadi, Yohanes Pembaptis memanggil kita untuk setia pada keinginan yang baik dan untuk berbicara kebenaran dala...

Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah

Setelah membaca perikopa Injil hari ini, Lukas 2:22-40, minimal kita akan menemukan 5 tokoh utama yang dilibatkan dalam kisah ini: YESUS, MARIA, YOSEF, SEMEON dan HANA. YESUS yang dipersembahkan di bait Allah. Yesus adalah Mesias yang dijanjikan itu. Hal ini tampak dalam sikap Simeon yang menanti-nantikan seorang Juru Selamat seperti yang dijanjikan dan tak akan mati sebelum berjumpa dengan Sang Penyelamat tersebut. MARIA dan YOSEF yang mempersembahkan : Korban persembahan: sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati (sebuah persembahan kaum miskin) untuk pengudusan keluarga. Maria dan Yusuf tidak menuntut perlakukan istimewa dari Allah walau mereka telah mengamini kehendakNya. Tetapi mempersembahkan seluruh keluarganya kepada Allah. Bayi Yesus di Bait Allah. Mereka mewakili keluarga-keluarga saleh yang ada pada zaman itu. Kedua sosok ini menanamkan tradisi keagamaan mereka dalam bangsa Israel sejak dini kepada Yesus: dengan menyunatkan Yesus; memaklumkan Yesus sebagai an...

Yesus Memanggil Para Murid dari Kalangan Sederhana

Misa Harian di Tarquinia, Roma Matius 4:12-23 Misi Yesus sangat jelas, yaitu mewartakan Kerajaan Allah. Ia menyerukan pertobatan dan memanggil keempat murid untuk menyertaiNya. Ia tidak bekerja sendirian dengan memilih: Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus. Kita secara pribadi memiliki pengalaman personal dipanggil oleh Tuhan. Kita menjadi orang-orang yang dengan jelas dipilih oleh Yesus, untuk karyaNya memang akan terus berlangsung. Tetapi sering menjadi tidak jelas bagi manusia, kita yang dipilih untuk terlibat dalam karya Yesus. Manusia sering merasa tidak layak, lemah, kecil, tidak mampu berdosa dst. Demikian pun tindakan Yesus ketika memilih empat murid itu. Suatu pilihan yang mungkin tak masuk hitungan, menurut cara berpikir, cara pandang kita sebagai manusia. Sebab manusia cenderung memilih orang-orang yang dipadang mampu, pandai dan ahli. Tetapi cara pandang Allah berbeda dengan cara pandang kita. Sebab Allah berkenan kepada mereka yang sederhana, kecil, lemah, dan berdosa ...

Yohanes menarik simpati masa karena Yesus yang diimani

Baru saja aku membaca perikopa Injil Yohanes 1:29-34 untuk besok pagi. Sejenak aku pun mengambil waktu untuk membacanya kembali ayat demi ayat dan setelah itu merenungkannya. weekend Salesian, Mei 2014 Tiba-tiba aku sampai kepada kesadaran bahwa aku pernah menceritakan tentang kehebatan sesuatu bahkan tentang diriku sendiri dengan rasa amat bangga kepada orang lain. Mungkin orang yang mendengarku kagum, tetapi mungkin juga sebaliknya: muak atau jengkel. Heeee maaf yaa sahabatku atas keangkuhanku, atas kesombonganku. Perikopa yang kubaca mengajakku untuk mengakui bahwa Yohanes sungguh luar biasa. Dia menarik simpati rakyat dan banyak orang mengikuti gerakan barunya mempersiapkan kedatangan Mesias. Hidupnya menyampaikan pesan yang menarik. Dia mendirikan komunitas baru: komunitas yang menantikan zaman baru, pun bisa dipahami oleh orang-orang Yahudi saat itu. Prinsipnya tegas - Dia selalu menunjuk pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya dan tidak pernah mengambil kesempata...

Hari Raya Epifani

Yesaya 60:1-6; Efesus 3:2-3a.5-6; Matius 2:1-12 Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani). Kata PENAMPAKAN mengisyaratkan adanya dinamika dua pihak yang berkaitan erat: Siapa (apa) yang menampakan dan kepada siapa (apa) penampakan itu. Di sini jelas dinamika itu antara Allah dan Manusia. Mari kita lihat dinamika itu dalam empat point di bawah ini: Aku telah melihat bintangNya PERTAMA, Allah yang menampakan diri dengan sarananya: 1). Bintang – bisa dilihat oleh banyak orang, artinya: Allah mau menjumpai kepada semakin banyak orang, bukan hanya orang Yahudi saja. Meski tidak semua orang pun bisa melihat bintang. Mereka yang bijaksana yang bisa melihat makna di balik tanda bintang. 2). Bayi (manusia) – Allah datang dalam wujud/rupa manusia. Allah punya inisiatif ingin menjumpai manusia secara lebih dekat, hangat dan bersahabat. KEDUA, kepada orang-orang Majus. Matius tidak menyebut secara persis siapa mereka itu. Adanya nama tiga orang bijak dari Timur merupa...

Apa yang Anda inginkan?

1 Yoh 2:29-3:6; Yoh 1:29-34 http://melangkahmeraihcita.files.wordpress.com/2013/12/vannes-3.jpg "Apakah yang kamu cari?" Itulah pertanyaan Yesus kepada kedua murid Yohanes yang bergegas mengikuti Yesus. Pertanyaan yang kurang lebih senada pernah kita dengarkan dari orang-orang disekitar kita, “Apa yang Anda inginkan?” Kita tentu setuju, bilakeinginan atau dengan kata yang lebih halus “motivasi” dapat menjadi tolok ukur soal baik buruknya suatu tindakan kita (tidak bermaksud ekstrim moralis). Suatu tindakan adalah buruk jika maksudnya jahat. Suatu bentuk kejahatan akan berkurang jahatnya jika kejahatan itu dilakukan dengan maksud baik. Seperti halnya dengan keberhasilan, kesuksesan atau prestasi, pun sangat tergantung dari maksud dan tujuan yang bersangkutan itu sendiri. Jika orang sungguh-sungguh bermaksud dan berkeinginan mencapai sesuatu, maka saya akan mencari cara yang tepat untuk mendapatkannya. Jika keinginan saya lemah, maka saya akan mudah menyerah. Yakobus dalam...