Langsung ke konten utama

Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah

Setelah membaca perikopa Injil hari ini, Lukas 2:22-40, minimal kita akan menemukan 5 tokoh utama yang dilibatkan dalam kisah ini: YESUS, MARIA, YOSEF, SEMEON dan HANA.

YESUS yang dipersembahkan di bait Allah. Yesus adalah Mesias yang dijanjikan itu. Hal ini tampak dalam sikap Simeon yang menanti-nantikan seorang Juru Selamat seperti yang dijanjikan dan tak akan mati sebelum berjumpa dengan Sang Penyelamat tersebut.


MARIA dan YOSEF yang mempersembahkan :
Korban persembahan: sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati (sebuah persembahan kaum miskin) untuk pengudusan keluarga. Maria dan Yusuf tidak menuntut perlakukan istimewa dari Allah walau mereka telah mengamini kehendakNya. Tetapi mempersembahkan seluruh keluarganya kepada Allah.
Bayi Yesus di Bait Allah. Mereka mewakili keluarga-keluarga saleh yang ada pada zaman itu. Kedua sosok ini menanamkan tradisi keagamaan mereka dalam bangsa Israel sejak dini kepada Yesus: dengan menyunatkan Yesus; memaklumkan Yesus sebagai anak sah menurut hukum dengan menamaiNya Yesus; menguduskan Yesus dengan mempersembahkanNya di Bait Allah (Yesus adalah buah sulung yang dipersembahkan, yang akan bangkit dari antara orang mati).
Mereka hendak memberi contoh dengan menghidupi lebih dahulu tradisi keagamaan mereka. Persembahan sang Bayi kepada Tuhan Allah menunjukkan bahwa Maria dan Yusuf bukanlah orang yang egois. Yusuf dan Maria mengembalikan sang Bayi, Yesus, kepada tugas perutusan yang hendak diembanNya.

SIMEON dan HANA yang menyambut Yesus di Bait Allah. Keduanya mewakili orang-orang saleh pada zaman itu yang menantikan kedatangan seorang Mesias yang akan mengawali zaman baru. Meski mereka orang-orang yang teguh beriman, tetapi batin mereka gundah-gulana : kapankah Allah akan sungguh mengutus orang untuk membawa umat di jalan yang benar.
Kidung Simeon (ay. 29-32), merupakan pujian yang juga meringkaskan pengalaman yang melegakan batin Ssimeon karena dapat melihat datangnya penyelamatan yang disediakan bagi siapa saja, bukan hanya bagi umat terpilih. Ketika Yesus di bawa masuk ke Bait Allah oleh kedua orang tuaNya, Simeon melihat, menyambut dan menerima Yesus dalam tangannya dan ia tidak ragu-ragu mengakui bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan Allah. Hana memahami hal itu dengan penuh sukacita dan pengharapan, dan ia pun "berbicara tentang anak itu (Yesus) kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem" (ay. 38).
Kesaksian Simeon dan Hana, sekaligus mengamini kerelaan Yusuf dan Maria yang mempersembahkan sang Anak tunggal mereka.

Umat merayakan Ekaristi di halaman Basilika St Petrus
Bagi kita...
Tindakan Maria dan Yosef "mempersembahkan Yesus kepada Tuhan" ini merupakan sikap iman yang mesti juga dimiliki setiap orang Kristiani : Maria dan Yusuf sadar bahwa Yesus bukan milik mereka, melainkan milik Allah, pun dengan keluarganya, dipilih oleh Allah. Kita juga diundang untuk senantiasa mempersembahkan diri kita, keluarga kita, karya-karya kita. Pater Dehon menghendaki agar para anggotanya secara eksplisit mempersatukan hidup mereka sebagai religius dan sebagai rasul dengan persembahan Kristus demi kepentingan semua manusia dan bukan demi kepentingan diri sendiri (bdk. Konst.6).

Mempersembahkan diri juga berarti menguduskan. Kita semua sedang mengusahakan pengudusan diri. Seperti yang diwartakan Paulus bahwa bersama dengan saudara seiman, kita didorong untuk mengikuti jejak Kristus untuk mencapai kekudusan (lih. 1 Tes 4:7).
Belajar dari Simeon dan Hana, agar kita selalu memiliki kegundahan (keinginan yang besar, komitmen yang kuat) untuk berjumpa, menyambut dan mengakui Yesus Sang Mesias yang dijanjikan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merindukan Roti Surgawi

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, dan kita memasuki hari yang ke 5, Novena Hati Kudus Yesus. Mari kita mendengarkan dan merenungkan Injil Tuhan menurut St. Yohanes 6:51-58 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan ...

Menjadi gembala bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain

Yohanes 10:27-30 Hari ini adalah HARI MINGGU PASKAH IV, Gereja mendedikasikannya sebagai hari Minggu Panggilan. Suatu hari Minggu yang menandai adanya gerakan doa bersama, bersyukur dan memohon kepada Allah: Panggilan Imam, Bruder dan Suster untuk menjadi pekerja di kebun Anggur Tuhan. Kita ingat bahwa Paus Paulus VI menyatakan bahwa panggilan itu sendiri berhubungan langsung dengan kehidupan seluruh umat beriman, katanya: ”di mana dapat ditemukan banyak panggilan imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang yang menghayati injil dengan tulus.” Panggilan yang subur di suatu tempat menjadi indicator dinamika kehidupan iman, harapan dan kasih dari setiap umat di tempat itu, baik itu sebagai lingkungan, wilayah, paroki maupun keuskupan, dan sekaligus menjadi bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Hari ini, melalui Injil Yohanes 10:27-30, Yesus berbicara tentang Gembala yang baik. Ide tentang Gembala yang baik, rasanya masih faktual di zaman ini, meski terkesan musta...

Yohanes menarik simpati masa karena Yesus yang diimani

Baru saja aku membaca perikopa Injil Yohanes 1:29-34 untuk besok pagi. Sejenak aku pun mengambil waktu untuk membacanya kembali ayat demi ayat dan setelah itu merenungkannya. weekend Salesian, Mei 2014 Tiba-tiba aku sampai kepada kesadaran bahwa aku pernah menceritakan tentang kehebatan sesuatu bahkan tentang diriku sendiri dengan rasa amat bangga kepada orang lain. Mungkin orang yang mendengarku kagum, tetapi mungkin juga sebaliknya: muak atau jengkel. Heeee maaf yaa sahabatku atas keangkuhanku, atas kesombonganku. Perikopa yang kubaca mengajakku untuk mengakui bahwa Yohanes sungguh luar biasa. Dia menarik simpati rakyat dan banyak orang mengikuti gerakan barunya mempersiapkan kedatangan Mesias. Hidupnya menyampaikan pesan yang menarik. Dia mendirikan komunitas baru: komunitas yang menantikan zaman baru, pun bisa dipahami oleh orang-orang Yahudi saat itu. Prinsipnya tegas - Dia selalu menunjuk pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya dan tidak pernah mengambil kesempata...