Langsung ke konten utama

Anda dan saya adalah Gembala sekaligus Domba


Add caption
Yohanes 10:1-10

Yesus sebagai Gembala, merupakan gambaran yang sangat indah, yang melukiskan kebaikan Tuhan yang menjaga dan yang melindungi kita.
Dalam Perjanjian Lama,Pemazmur menggambarkan Tuhan sebagai Gembala dan umat-Nya adalah kawanan dombanya (cfr. Mzm 23). Para raja dan imam juga dilukiskan sebagai gembala, di mana Allah menugaskan mereka untuk menjaga dan memimpin umat-Nya. 

Yehezkiel menubuatkan kedatangan gembala yang baik, yang akan melindungi kawanan dombanya (Yeh 34). Tetapi melalui Yeremia, Allah juga memperingatkan umat akan adanya gembala- gembala yang tidak baik (cfr. Yer 2:8), yang mengakibatkan domba tercerai berai. Maka Yeremia atas nama Allah menjanjikan datangnya gembala- gembala yang baik dari keturunan Daud (cfr. Yer 23:1-6; 3:15; 10:21; Is 40:1-11). Yesus adalah penggenapan nubuat ini (cfr. Luk 15:4-7).

Hari ini melalui Injil Yohanes, Sabda Tuhan mengingatkan kita akan peran Yesus sebagai Gembala yang baik itu, sebagai penggenapan atas nubuat para nabi. Salah satu sifat Gembala yang disebutkan oleh penginjil Yohanes bahwa Gembala yang baik mengenal domba- dombanya dan mereka mengenal suara sang gembala mengikuti dia (cfr. Yoh 10: 3-5). Sebuah penggambaran yang saat itu adalah umum. Pada saat menjelang malam, kawanan domba dikumpulkan menjadi satu dan mereka akan dijaga semalaman oleh penjaga malam. Lalu pada waktu dini hari, para gembala akan kembali dan membukakan pintu bagi kawanan. Gembala akan memanggil tiap- tiap dombanya, yang akan mengenali suara gembalanya dan mengikutinya. Domba- domba itu mengenali suara gembalanya karena sang gembala biasanya memanggil nama mereka. Lalu gembala akan memimpin mereka ke padang rumput.

Kita selalu dipanggil untuk semakin mengenali suara Tuhan Sang Gembala Agung kita, yang secara terus menerus memanggil melalui sabdaNya. Selain semakin mengenali, juga taat kepada suara para gembala, yang melalui para imam, uskup dan Paus, Tuhan Yesus memberikan kuasa untuk mengajar kita. Kita juga diundang untuk menghargai sakramen- sakramen, dan dengan hati terbuka mempersiapkan diri untuk menerimanya dengan layak. Para kudus juga telah memberikan teladan hidup mereka.

Pada hari Minggu Paskah IV tahun 2014 ini, kita khususkan sebagai Minggu panggilan. Anda dan saya diingatkan bagaimana menjadi gembala atau domba yang saling peka mengenal suara. Sebab jika kita hanya mengenalnya sambil lalu, bisa jadi kita akan mengenal suara yang mirip saja, dan ternyata itu pencuri atau perampok.

“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Dengan demikian, ketika kita peka akan suara gembala kita, kita sama-sama akan menyambut Dia yang memberikan hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Yesus mengenal kita satu persatu, Anda dan saya. Ia tahu siapa kita, kekurangan dan kelebihan kita. Ia mengenal kita jauh melebihi pengenalan kita akan diri sendiri. Ia mengenal kita karena kita berharga dimataNya. Ia mengenal kita karena Ia sungguh-sungguh mengasihi kita.
Oleh karena Allah telah lebih dahulu mengenali kita, maka kita tidak perlu ragu dalam setiap doa kita. Ia mengenal kita dan mengetahui dengan pasti apa yang menjadi kebutuhan kita. Pun dalam setiap pekerjaan, Allah memberikan kemampuan bagi kita untuk mengembangkannya.
Allah juga mengenal kehidupan panggilan kita, sebagai biarawati, biarawan, atau ibu dan bapak yang berumah tangga, dengan segala suka dan dukanya. Mari kita kenali suaraNya, karena Ia lebih dahulu mengenali kita. Mari juga mengenali suara saudari dan saudara kita, agar kita juga sama-sama mengalami hidup yang berkelimpahan dari Gembala Agung kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merindukan Roti Surgawi

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, dan kita memasuki hari yang ke 5, Novena Hati Kudus Yesus. Mari kita mendengarkan dan merenungkan Injil Tuhan menurut St. Yohanes 6:51-58 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan ...

Menjadi gembala bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain

Yohanes 10:27-30 Hari ini adalah HARI MINGGU PASKAH IV, Gereja mendedikasikannya sebagai hari Minggu Panggilan. Suatu hari Minggu yang menandai adanya gerakan doa bersama, bersyukur dan memohon kepada Allah: Panggilan Imam, Bruder dan Suster untuk menjadi pekerja di kebun Anggur Tuhan. Kita ingat bahwa Paus Paulus VI menyatakan bahwa panggilan itu sendiri berhubungan langsung dengan kehidupan seluruh umat beriman, katanya: ”di mana dapat ditemukan banyak panggilan imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang yang menghayati injil dengan tulus.” Panggilan yang subur di suatu tempat menjadi indicator dinamika kehidupan iman, harapan dan kasih dari setiap umat di tempat itu, baik itu sebagai lingkungan, wilayah, paroki maupun keuskupan, dan sekaligus menjadi bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Hari ini, melalui Injil Yohanes 10:27-30, Yesus berbicara tentang Gembala yang baik. Ide tentang Gembala yang baik, rasanya masih faktual di zaman ini, meski terkesan musta...

Yohanes menarik simpati masa karena Yesus yang diimani

Baru saja aku membaca perikopa Injil Yohanes 1:29-34 untuk besok pagi. Sejenak aku pun mengambil waktu untuk membacanya kembali ayat demi ayat dan setelah itu merenungkannya. weekend Salesian, Mei 2014 Tiba-tiba aku sampai kepada kesadaran bahwa aku pernah menceritakan tentang kehebatan sesuatu bahkan tentang diriku sendiri dengan rasa amat bangga kepada orang lain. Mungkin orang yang mendengarku kagum, tetapi mungkin juga sebaliknya: muak atau jengkel. Heeee maaf yaa sahabatku atas keangkuhanku, atas kesombonganku. Perikopa yang kubaca mengajakku untuk mengakui bahwa Yohanes sungguh luar biasa. Dia menarik simpati rakyat dan banyak orang mengikuti gerakan barunya mempersiapkan kedatangan Mesias. Hidupnya menyampaikan pesan yang menarik. Dia mendirikan komunitas baru: komunitas yang menantikan zaman baru, pun bisa dipahami oleh orang-orang Yahudi saat itu. Prinsipnya tegas - Dia selalu menunjuk pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya dan tidak pernah mengambil kesempata...