Langsung ke konten utama

Merindukan Roti Surgawi

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, dan kita memasuki hari yang ke 5, Novena Hati Kudus Yesus. Mari kita mendengarkan dan merenungkan Injil Tuhan menurut St. Yohanes 6:51-58

Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Para sahabat yang terkasih, Kita tahu bahwa setiap makhluk membutuhkan makanan dan minuman untuk dapat hidup. Pun bagi manusia, makanan dan minuman menjadi unsur yang sangat vital bagi kehidupannya. Yesus melalui SabdaNya membedakan dua macam makanan yang dimakan oleh manusia: makanan yang dapat binasa dan makanan yang memberi hidup kekal.

Makanan yang dapat binasa artinya makanan yang dibutuhkan oleh tubuh jasmani, yang dimakan oleh manusia sehari-hari. Lalu makanan yang memberi hidup kekal artinya makanan yang memberikan hidup untuk roh. Yesus mengungkapkan, bahwa Dia adalah ‘Roti Hidup’. “Akulah Roti yang turun dari Surga; barangsiapa makan roti ini akan hidup selamanya.”

Melalui pengajaran ini, Tuhan Yesus menegaskan bahwa tujuan-Nya datang ke dunia ini, bukan untuk memberikan makanan yang hanya dapat mengenyangkan tubuh jasmani yang sifatnya sementara, melainkan makanan yang memelihara kehidupan rohani dan memberi hidup yang kekal.

Para sahabat yang terkasih, Hari ini dengan merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, kita diajak untuk merenungkan lebih dalam lagi, makna penebusan yang terlaksana melalui pengorbanan hidup Yesus. Kita mengenangkan dan merayakan pemberian diri atau pengorbanan hidup Yesus itu, melalui Perayaan Ekaristi yang dapat mempersatukan kita dengan Kristus dan sesama.

Saya sangat yakin bahwa dalam situasi khusus pandemic covid 19 akhir-akhir ini, hal yang paling dirindukan oleh sebagian besar umat beriman adalah merayakan Ekaristi dan terlebih dapat menyambut Tubuh dan Darah Kristus dalam rupa hosti kudus.

Para sahabat yang terkasih, Perayaan Ekaristi sebagai kenangan akan pemberian diri Yesus, tubuh dan darah Nya, tidaklah selesai sebagai ritual dan symbol di altar, melainkan mengalir sebagai “Ekaristi konkrit yang terus menerus” lewat cara hidup kita sehari-hari sebagai umat beriman. Konkritnya, bagaimana kita semakin setia merindukan dan menimba rahmat Ekaristi, belajar dari pemberian diri dan pengorbanan hidup Yesus, yang dikenangkan melalui symbol roti dan anggur yang dibagi-bagikan itu. Semoga kita juga semakin murah hati untuk berbagi dalam hidup kita sehari-hari, semakin gigih dan tekun menghadirkan Tuhan dalam setiap perjuangan, kesulitan, tantangan, keberhasilan dan situasi-situasi lain dalam hidup kita, sehingga kita merasakan jaminan hidup kekal itu melaui sukacita dan kegembiraan hidup kita sehari-hari.

Para sahabat yang terkasih, Saya hendak mengakhiri permenungan singkat ini dengan mendoakan doa Novena Hati Kudus Yesus untuk kita semua. Mari kita hening sejenak.

Hati Yesus yang Maha Kudus, Juruselamat kami,
arahkanlah pandangan kami hanya terpusat pada cahaya Kasih
dan Rahmat yang bersinar dari hati-Mu.
Kami memohon rahmat-Mu bagi intensi kami

(mari kita sampaikan intensi kita masing-masing)

Semoga hati-Mu menjadi mercusuar iman kami yang benderang,
menjadi jangkar harapan kami,
bantuan yang selalu diulurkan dalam kelemahan kami,
fajar kedamaian yang tak tergoyahkan,
dan matahari yang menyinari cakrawala hidup kami.
Kami percaya sepenuhnya kepada Hati Ilahi-Mu.
Semoga rahmat-Mu mengubah hati kami
supaya Injil-Mu selalu menjadi pedoman kami.
Semoga semua orang dan bangsa di bumi
berlindung di dalam Hati-Mu yang penuh kasih
dan menikmati kedamaian yang bersumber
dari mata air cinta kasih yang sejati,
yaitu Hati-Mu yang penuh belas kasih. Amin.

Tuhan memberkati niat-niat baik kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Solidaritas Allah dalam sikap SP Maria

Luk 1:39-56 Hari ini adalah hari raya St. Perawan Maria diangkat ke surga. Pernyataan bahwa Maria diangkat ke surga rasanya hingga sekarang selalu mengundang tanya banyak orang: siapakah Maria sehingga ia diangkat kesurga? Apa maksudnya pernyataan itu? Injil yang baru saja kita dengarkan menawarkan kepada kita sebuah peristiwa bahwa Maria mengunjungi Elisabet saudarinya. Apa maksud peristiwa itu? Pada kesempatan kali ini, di HR SP Maria diangkat ke surge, saya tertarik untuk mengajak saudari dan saudaraku untuk memandang peristiwa itu sebagai saat epifani. Ada dua pertanyaan: 1) Mengapa sebuah saat EPIFANI? Kita tahu bahwa Epifani adalah sebuah penampakan Tuhan, dalam konteks ini adalah sebuah penampakan Tuhan kepada Elisabet. Kita mendengar: Maria masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus. Adalah sebuah pertemuan yang bukan biasa-biasa saja, ...

Menjadi gembala bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain

Yohanes 10:27-30 Hari ini adalah HARI MINGGU PASKAH IV, Gereja mendedikasikannya sebagai hari Minggu Panggilan. Suatu hari Minggu yang menandai adanya gerakan doa bersama, bersyukur dan memohon kepada Allah: Panggilan Imam, Bruder dan Suster untuk menjadi pekerja di kebun Anggur Tuhan. Kita ingat bahwa Paus Paulus VI menyatakan bahwa panggilan itu sendiri berhubungan langsung dengan kehidupan seluruh umat beriman, katanya: ”di mana dapat ditemukan banyak panggilan imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang yang menghayati injil dengan tulus.” Panggilan yang subur di suatu tempat menjadi indicator dinamika kehidupan iman, harapan dan kasih dari setiap umat di tempat itu, baik itu sebagai lingkungan, wilayah, paroki maupun keuskupan, dan sekaligus menjadi bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Hari ini, melalui Injil Yohanes 10:27-30, Yesus berbicara tentang Gembala yang baik. Ide tentang Gembala yang baik, rasanya masih faktual di zaman ini, meski terkesan musta...