Langsung ke konten utama

Cahaya dan Suara dalam perjalanan hidup saya dan Anda

Melihat dan mengenali kota Roma dari puncak bukit 
Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18; Rm 8:31b-34; Mrk 9:2-10

Pada hari ini, Minggu pekan II masa Prapaskah, dikenal sebagai hari Minggu Transfigurasi Kristus. Bacaan-bacaan hari ini menyajikan kepada kita suatu pendakian “gunung rohani" bersama Yesus untuk memandang cahaya kemuliaan Allah dengan wajah manusiawi-Nya dan mendengarkan suara yang berseru “Inilah Anak-Ku terkasih, dengarkanlah Dia!”

***

Suatu ketika, seorang seminaris datang mengetuk kamar saya. Rasanya untuk pertama kalinya ini, ia menemui saya. Setelah masuk, ia menuturkan kisahnya selama mengikuti latihan sepakbola sore hari itu, Rabu. Sebuah benturan keras telah terjadi atas dirinya rekannya di lapangan. Ia terjatuh, terguling dan penuh dengan lumpur ditubuhnya (maklum lapangan bola saat itu masih amat memprihatinkan). Ia berhenti sejenak berkisah, ia membuka kacamata hitamnya. Sayapun melepaskan senyum yang sejak ia masuk, saya tahan-tahan. Dalam hati saya hanya bertanya-tanya mengapa ia harus mengenakan kacamata hitam seperti seorang pemain kuda lumping.

Setelah ia bisa menguasai emosinya, isak tangisnya, lalu ia menyampaikan kecemasan dan ketakutannya atas kejadian itu. Ia cemas dan takut akan kedua matanya yang tidak lagi berfungsi baik karena benturan keras dengan kepala rekannya. Pun dengan telinganya yang dirasa seperti tersumbat sesuatu sehingga tidak amat jelas untuk mendengar.

Saya turut merasakan kecemasan itu, meski tidak saya katakan padanya. Apalah jadinya bila seseorang akhirnya tidak bisa melihat dan tidak bisa mendengar. Mungkin ia akan terasa terlempar jauh dari dunia, gelap dan sepi.

Ada dua unsur mendasar dalam kisah ini: CAHAYA dan SUARA. Demikianlah dua unsur yang dipakai penulis Injil Markus untuk mahami dan mengerti pewartaan Yesus.

Cahaya, Yesus mengajak dan memimpin murid-murid : Petrus, Yakobus dan Yohanes mendaki ke puncak gunung. Di sana “Ia berubah rupa di hadapan mereka” (Mrk 9:2). Wajah serta pakaian-Nya bersinar putih sementara Musa dan Elia menampakkan diri bersama-Nya.

Suara, Pada saat itu, awan menaungi puncak gunung dan terdengarlah suara yang berkata: “Inilah Putera-Ku terkasih, dengarkanlah Dia” (Mrk 9:7).

Di sini, cahaya dan suara dipakai untuk memberikan kesaksian tentang Dia dan memberi perintah untuk mendengarkan Dia. Karena alasan inilah Yesus membawa tiga orang diantara mereka untuk naik ke gunung bersama Dia. Sebuah tempat yang menyimbolkan dekat dengan yang ilahi. Ia menyingkapkan kemuliaan Ilahi-Nya, cahaya Kebenaran dan Cinta. Yesus menghendaki agar terang ini menerangi hati mereka saat mereka melewati kegelapan Sengsara dan wafat-Nya, saat dimana kebodohan Salib menjadi tak tertanggungkan bagi mereka. Allah adalah terang, dan Yesus ingin membagikan kepada para sahabat-Nya pengalaman akan Terang yang berdiam di antara mereka ini.

Setelah peristiwa Transfigurasi ini Dia sendirilah yang akan menjadi terang batin mereka dan dapat melindungi mereka dari segala serangan kegelapan. Yesus adalah pelita yang tak pernah padam. Dan Sabda-sabdaNyalah yang diperdengarkan kepada siapapun dan mereka memperoleh kesempatan untuk menimban keijaksaan daripadaNya.
Ziarah Assisi (2013)
Jelas bahwa kita semua pun membutuhkan terang batin untuk melihat dengan cermat dan mengatasi segala kesulitan kita. Maka, marilah kita mendaki gunung rohani kita bersama Yesus. Mengalami transfigurasi Yesus setiap hari dalam hidup kita. 2 kata kunci pengingat: Cahaya. Melihat dengan cermat Yesus yang menjadi cahaya iman yang menuntun hidup. Suara. Mendengarkan dengan sertia dan jelas, khususnya suara Allah dalam Sabdanya dan yang berkumandang melalui sapaan, sharing, teguran dan juga kritik dari orang-orang di sekitar kita.

Yakinlah bahwa kita dimampukan seperti Abraham yang memiliki ketajaman iman untuk melihat cahaya ilahi yang membuat ia berani mengurbankan apa yang paling berharga dalam hidupnya. Yakinlah bahwa kita dimampukan seperti Paulus yang mamiliki ketajaman untuk mendengarkan suara Allah dalam discermen hidup kita setiap hari dengan memilih yang baik untuk bisa kita buat dalam setiap pengalaman hidup kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merindukan Roti Surgawi

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, dan kita memasuki hari yang ke 5, Novena Hati Kudus Yesus. Mari kita mendengarkan dan merenungkan Injil Tuhan menurut St. Yohanes 6:51-58 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan ...

Menjadi gembala bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain

Yohanes 10:27-30 Hari ini adalah HARI MINGGU PASKAH IV, Gereja mendedikasikannya sebagai hari Minggu Panggilan. Suatu hari Minggu yang menandai adanya gerakan doa bersama, bersyukur dan memohon kepada Allah: Panggilan Imam, Bruder dan Suster untuk menjadi pekerja di kebun Anggur Tuhan. Kita ingat bahwa Paus Paulus VI menyatakan bahwa panggilan itu sendiri berhubungan langsung dengan kehidupan seluruh umat beriman, katanya: ”di mana dapat ditemukan banyak panggilan imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang yang menghayati injil dengan tulus.” Panggilan yang subur di suatu tempat menjadi indicator dinamika kehidupan iman, harapan dan kasih dari setiap umat di tempat itu, baik itu sebagai lingkungan, wilayah, paroki maupun keuskupan, dan sekaligus menjadi bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Hari ini, melalui Injil Yohanes 10:27-30, Yesus berbicara tentang Gembala yang baik. Ide tentang Gembala yang baik, rasanya masih faktual di zaman ini, meski terkesan musta...

Yohanes menarik simpati masa karena Yesus yang diimani

Baru saja aku membaca perikopa Injil Yohanes 1:29-34 untuk besok pagi. Sejenak aku pun mengambil waktu untuk membacanya kembali ayat demi ayat dan setelah itu merenungkannya. weekend Salesian, Mei 2014 Tiba-tiba aku sampai kepada kesadaran bahwa aku pernah menceritakan tentang kehebatan sesuatu bahkan tentang diriku sendiri dengan rasa amat bangga kepada orang lain. Mungkin orang yang mendengarku kagum, tetapi mungkin juga sebaliknya: muak atau jengkel. Heeee maaf yaa sahabatku atas keangkuhanku, atas kesombonganku. Perikopa yang kubaca mengajakku untuk mengakui bahwa Yohanes sungguh luar biasa. Dia menarik simpati rakyat dan banyak orang mengikuti gerakan barunya mempersiapkan kedatangan Mesias. Hidupnya menyampaikan pesan yang menarik. Dia mendirikan komunitas baru: komunitas yang menantikan zaman baru, pun bisa dipahami oleh orang-orang Yahudi saat itu. Prinsipnya tegas - Dia selalu menunjuk pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya dan tidak pernah mengambil kesempata...