Langsung ke konten utama

Tak cukup hanya dengan khawatir

Matius 6:24-34

Dan mari sejenak kita melihat hidup kita dalam terang Injil. Salah satu pernyataan Yesus adalah: Janganlah kuatir akan hidupmu. Apakah saat ini Anda sedang merasa kuatir, cemas atau digelisahkan oleh sesuatu? Katakan ya atau tidak dalam hatimu, sesuai yang sedang Anda alami saat ini. OK.
sebuah kursi tua di sudut halaman biara benediktin di Farfa, Italia

Saudari dan saudaraku, disadari atau tidak, kekuatiran dapat merubah suasana hati atau mood. Bisa saja menghilangkan kegembiraan, ketenangan, menciptakan ketegangan; mengendorkan konsentrasi, membuat kita mempertanyakan segala sesuatu. Dan yang amat membahayakan bahwa kekuatiran mengikis kepercayaan kita pada sesama dan mempertanyakan kehadiran Tuhan dalam hidup.



Tidak berarti bahwa kita tidak perlu merasa kuatir atau cemas. Perasaan kuatir adalah wajar dan sangat manusiawi. Kita pun bisa melihat nilai positifnya, misalnya: kuatir sebagai ungkapan perhatian; saya kuatir akan keselamatan diri ataupun orang lain. Kekuatiran mendorong saya untuk menyiapkan diri dan menghadapi kenyataan, meningkatkan kewaspadaan. Masalahnya adalah ketika kekuatiran itu muncul atau kita rasakan tanpa menemukan nilai positifnya. Wah bisa jadi ia akan begitu menguasai seluruh hati dan hidup kita. Dan cenderung tidak memberi rasa aman.

Yesus dalam Sabdanya berulang kali mengingatkan kita untuk tidak kuatir. Tidaklah mudah untuk menerima kata-kata Yesus, terlebih bagi yang sedang mengalami cemas atau kuatir. Mungkin ia akan merasakan bahwa kata-kata Yesus menyepelekan persoalan hidupnya, dst.

Bagaimanapun hidup harus kita hadapi. Apapun situasinya setiap persoalan selalu punya jalan keluar. Dalam hal ini perlu kita garisbawahi pentingnya sikap percaya dalam keseharian hidup kita, baik dalam relasi dengan sesama, dalam pekerjaan dan semua segi kehidupan kita. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa bila kita tidak mudah percaya pada sesuatu atau seseorang, kita akan cenderung mereasa kuatir, cemas, dan akhirnya hidup menjadi tidak tenang, kurang fokus dan bahkan bisa jadi tidak memiliki rasa. Kekuatiran berakar dari kurangnya rasa percaya dalam diri seseorang.

Setidaknya ada dua hal yang akan selalu menandai sikap percaya:

=> Hidup penuh harapan. Biasanya orang yang hidup penuh harapan, ia juga akan hidup dengan keyakinan, berserah dan optimis bahwa Tuhan itu baik dan akan menjamin hidupnya. “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu lebih dari burung-burung itu?” Dan dengan demikian, ia juga akan dimampukan untuk selalu bersyukur dan terus bekerja semaksimal mungkin tanpa memikirkan hasil akhir. Hidup dalam pengharapan akan Tuhan akan mampu memupus kekuatiran kita.

=> Fokus akan hidupnya. Sikap percaya juga mendorong orang untuk membangun kehidupan rohani, menata batinnya dan melatih diri untuk menjadi fokus dalam hidupnya. Ia juga akan lebih mudah berelasi dengan sesamanya, menekuni pekerjaannya dan begitu perhatian dengan semua segi kehidupannya. Ingat kata-kata Yesus, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan…. kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merindukan Roti Surgawi

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, dan kita memasuki hari yang ke 5, Novena Hati Kudus Yesus. Mari kita mendengarkan dan merenungkan Injil Tuhan menurut St. Yohanes 6:51-58 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan ...

Menjadi gembala bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain

Yohanes 10:27-30 Hari ini adalah HARI MINGGU PASKAH IV, Gereja mendedikasikannya sebagai hari Minggu Panggilan. Suatu hari Minggu yang menandai adanya gerakan doa bersama, bersyukur dan memohon kepada Allah: Panggilan Imam, Bruder dan Suster untuk menjadi pekerja di kebun Anggur Tuhan. Kita ingat bahwa Paus Paulus VI menyatakan bahwa panggilan itu sendiri berhubungan langsung dengan kehidupan seluruh umat beriman, katanya: ”di mana dapat ditemukan banyak panggilan imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang yang menghayati injil dengan tulus.” Panggilan yang subur di suatu tempat menjadi indicator dinamika kehidupan iman, harapan dan kasih dari setiap umat di tempat itu, baik itu sebagai lingkungan, wilayah, paroki maupun keuskupan, dan sekaligus menjadi bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Hari ini, melalui Injil Yohanes 10:27-30, Yesus berbicara tentang Gembala yang baik. Ide tentang Gembala yang baik, rasanya masih faktual di zaman ini, meski terkesan musta...

Yohanes menarik simpati masa karena Yesus yang diimani

Baru saja aku membaca perikopa Injil Yohanes 1:29-34 untuk besok pagi. Sejenak aku pun mengambil waktu untuk membacanya kembali ayat demi ayat dan setelah itu merenungkannya. weekend Salesian, Mei 2014 Tiba-tiba aku sampai kepada kesadaran bahwa aku pernah menceritakan tentang kehebatan sesuatu bahkan tentang diriku sendiri dengan rasa amat bangga kepada orang lain. Mungkin orang yang mendengarku kagum, tetapi mungkin juga sebaliknya: muak atau jengkel. Heeee maaf yaa sahabatku atas keangkuhanku, atas kesombonganku. Perikopa yang kubaca mengajakku untuk mengakui bahwa Yohanes sungguh luar biasa. Dia menarik simpati rakyat dan banyak orang mengikuti gerakan barunya mempersiapkan kedatangan Mesias. Hidupnya menyampaikan pesan yang menarik. Dia mendirikan komunitas baru: komunitas yang menantikan zaman baru, pun bisa dipahami oleh orang-orang Yahudi saat itu. Prinsipnya tegas - Dia selalu menunjuk pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya dan tidak pernah mengambil kesempata...