Langsung ke konten utama

Minggu Panggilan 2016

Minggu Paskah IV, 
Kis 4:8-12; 1 Yoh 3:1-2; Yoh 10:11-18

Rasanya cepat sekali, kita hari ini sudah memasuki Hari Minggu Paskah ke-IV. Sebuah hari Minggu yang didedikasikan oleh Gereja Katolik sebagai Hari Minggu panggilan atau hari Minggu Gembala Baik. Sebuah hari Minggu yang dikhususkan untuk mendoakan dan meneguhkan panggilan kita masing-masing baik sebagai imam, religius dan juga seluruh awam umat beriman.

Kita semua harus meyakini bahwa bentuk panggilan apa pun, entah menjadi imam, bruder, suster, selibater, atau menikah dalam keluarga, semuanya adalah panggilan suci untuk semakin dekat dengan Kristus, Sang Gembala Baik. Maka tidak dipungkiri bahwa semua bentuk panggilan dalam Gereja bersifat ambil bagian dalam kesempurnaan penyerahan diri dan pengorbanan Sang Gembala Baik, Yesus Kristus itu. Hanya dengan bersatu dengan Kristus, entah sebagai imam, biarawan atau biarawati ataupun hidup berkeluarga, seseorang disucikan dan menemukan identitasnya yang sejati dan suci.

Sabda Tuhan pada hari Minggu Panggilan ini memfokuskan arah iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Gembala baik di dalam Gereja. Di dalam bacaan pertama kita mendengar Petrus dengan tegas berkata, “Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang bangunan, yaitu kamu sendiri, namun ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam nama siapa pun juga selain di dalam Dia”.

Yohanes dalam bacaan kedua mengatakan dampak dari kegembalaan Yesus yaitu kita sebagai anak-anak Allah. Martabat sebagai anak-anak Allah adalah wujud kasih Allah yang berlimpah kepada kita semua yang percaya. Yesus sebagai satu-satunya juru selamat membuat kita semua memiliki martabat baru sebagai anak-anak Allah yang akan melihat Yesus dalam keadaanNya yang sebenarnya.


Di dalam Injil, Yesus sendiri mengakui diri-Nya sebagai gembala baik. Ia berkata: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” (Yoh 10:11). Gembala yang baik itu memberi dirinya secara total untuk domba-dombanya. Tetapi Yesus membedakan dirinya dengan orang-orang upahan yang sifatnya penakut terhadap ganguan dari luar dan mudah mencari nyaman dengan meninggalkan domba-dombanya sendirian.

Gembala yang baik tidak hanya membuat dirinya dikenal tetapi ia juga mengenal domba-dombanya seperti yang ditunjukkan Yesus sendiri. Perhatian Yesus bukan hanya bagi domba-domba di dalam kandang-Nya tetapi domba-domba di luar kandang pun harus dituntun-Nya, mereka mendengar suara-Nya dan menjadi satu kawanan domba. Sebelumnya Petrus mengakui imannya bahwa keselamatan hanya ada di dalam nama Yesus. Kini, Yesus menyempurnakannya dengan mengatakan bahwa keselamatan yang hendak diberikan-Nya itu sifatnya universal. Semua orang baik yang dibaptis maupun yang terbuka hatinya kepadaNya layak menerima keselamatan.

Sabda Tuhan pada hari Minggu Panggilan ini membuat kita menyadari betapa besarnya kasih Tuhan sebagai Gembala utama kita:

Pertama, Ia berkenan untuk tinggal bersama kita, mendampingi serta menuntun kita ke jalan yang benar. Dia mengenal kita dan kita didirong untuk juga mengenal suaraNya. Sifat gembala yang baik semestinya membuat kita sadar diri untuk berlaku yang sama terhadap semua anggota keluarga terutama yang sangat membutuhkan.

Jalan-jalan di Freburg, Jerman
Kedua, Ia sebagai gembala juga memperhatikan “domba yang bukan dari kandangNya” sehingga menjadi satu kawanan dan satu gembala. Implikasinya pada tugas kita sebagai Gereja untuk melayani semua orang tanpa pamrih, pun tidak hanya dikhususkan bagi umat katolik tetapi bagi semua umat manusia.

Ketiga, Kita didorong oleh gerak Roh Kudus untuk mendoakan panggilan-panggilan baru bagitugas kegembalaan di dalam Gereja, baik sebagai sebagai imam, biarawan atau biarawati. Secara khusus, bagi anak-anak, remaja dan orang muda, mari kita berdoa untuk mohon rahmat panggilan bagi kita masing-masing, agar Tuhan memanggil kita sebagai mitra kerja Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merindukan Roti Surgawi

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, dan kita memasuki hari yang ke 5, Novena Hati Kudus Yesus. Mari kita mendengarkan dan merenungkan Injil Tuhan menurut St. Yohanes 6:51-58 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan ...

Menjadi gembala bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain

Yohanes 10:27-30 Hari ini adalah HARI MINGGU PASKAH IV, Gereja mendedikasikannya sebagai hari Minggu Panggilan. Suatu hari Minggu yang menandai adanya gerakan doa bersama, bersyukur dan memohon kepada Allah: Panggilan Imam, Bruder dan Suster untuk menjadi pekerja di kebun Anggur Tuhan. Kita ingat bahwa Paus Paulus VI menyatakan bahwa panggilan itu sendiri berhubungan langsung dengan kehidupan seluruh umat beriman, katanya: ”di mana dapat ditemukan banyak panggilan imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang yang menghayati injil dengan tulus.” Panggilan yang subur di suatu tempat menjadi indicator dinamika kehidupan iman, harapan dan kasih dari setiap umat di tempat itu, baik itu sebagai lingkungan, wilayah, paroki maupun keuskupan, dan sekaligus menjadi bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Hari ini, melalui Injil Yohanes 10:27-30, Yesus berbicara tentang Gembala yang baik. Ide tentang Gembala yang baik, rasanya masih faktual di zaman ini, meski terkesan musta...

Yohanes menarik simpati masa karena Yesus yang diimani

Baru saja aku membaca perikopa Injil Yohanes 1:29-34 untuk besok pagi. Sejenak aku pun mengambil waktu untuk membacanya kembali ayat demi ayat dan setelah itu merenungkannya. weekend Salesian, Mei 2014 Tiba-tiba aku sampai kepada kesadaran bahwa aku pernah menceritakan tentang kehebatan sesuatu bahkan tentang diriku sendiri dengan rasa amat bangga kepada orang lain. Mungkin orang yang mendengarku kagum, tetapi mungkin juga sebaliknya: muak atau jengkel. Heeee maaf yaa sahabatku atas keangkuhanku, atas kesombonganku. Perikopa yang kubaca mengajakku untuk mengakui bahwa Yohanes sungguh luar biasa. Dia menarik simpati rakyat dan banyak orang mengikuti gerakan barunya mempersiapkan kedatangan Mesias. Hidupnya menyampaikan pesan yang menarik. Dia mendirikan komunitas baru: komunitas yang menantikan zaman baru, pun bisa dipahami oleh orang-orang Yahudi saat itu. Prinsipnya tegas - Dia selalu menunjuk pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya dan tidak pernah mengambil kesempata...