Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Anugerah Allah akan membebaskan hati yang haus dan lapar untuk keadilan

Lukas 19:1-10 Penginjil Lukas mengetengahkan kepada kita seorang tokoh yang namannya tentu kita mengenalnya, yaitu Zakheus. Apa yang melintas spontan dalam pikiran kita ketika kita mendengar nama Zakheus? Setidaknya ada dua identifikasi - kalau tidak mau dikatakan cap atau seteriotif - yang mudah diingat: tubuhnya yang pendek dan seorang pendosa karena pekerjaannya sebagai pemungut cukai. Tetapi... kalau kita membaca, mendengarkan dan masuk melibatkan diri dalam dinamika kisah tentang Zakheus, kita akan menemukan dua bagian pokok yang dapat kita cermati: Pertama, «Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus». Ini adalah kecenderungan manusia, kecenderungan kita juga. Keinginan untuk berada di atas agar bisa melihat kehidupan kita dan terlebih dapat melihat dan mengontrol orang lain, menilai orang lain bahkan tak jaran...

Simon dan Yudas Tadeus, teladan iman

Gereja San Martino, Francis (doc.6/6/14) Hari ini kita merayakan Pesta St. Simon dan Yudas; dua rasul yang kita hanya sedikit tahu atau sedikit mengenal mereka. Simon kita kenal sebagi keturunan Zelot, yang bersemangat. Yudas disebut juga Tadeus berarti murah hati. Kita yakin bahwa kehadiran mereka dalam dinamika dengan rasul-rasul lainnya dan dengan Yesus Sang Guru tentu lebih dari apa yang kita alami. Dalam bacaan Ijil hari ini (Lukas 6,12-19), Yesus memilih kedua rasul ini jelas atas nama tindakan Allah. Yesus memilih mereka dari orang-orang biasa, orang-orang yang tidak memiliki pendidikan khusus, untuk tugas yang luar biasa. Dan bacaan Injil yang telah kita baca dan dengarkan baru saja mengajar banyak hal kepada kita. Setidaknya ada tiga hal yang dapat kita garis bawahi dari pewartaan Yesus: Pertama, doa. Bagi Yesus doa menjadi saat yang amat penting. Maka tak mengherankan bila ia memilih tempat yang istimewa: mendaki sebuah bukit, sebuah situasi yang sungguh spesial di mana I...

Berdoa berarti datang kepada Tuhan dengan segala pengharapan

Rm. Y. Kurkowski SCJ sedang berdoa di Gereja St. Alfonsus, Roma (Sept 2013) Lukas 11,5-13 Kita tahu bahwa Yesus adalah seorang pendoa. Sebelum dibabtis oleh Yohanes, Yesus berdoa. Sebelum Ia menetapkan 12 muridnya sebagai Rasul, Ia juga berdoa semalaman. Ia juga mengajak para muridNya, seperti Petrus, Yakubus dan Yohanes untuk pergi berdoa. Yesus hendak membiarkan kekuatan ilahi menyertai setiap saat hidupnya. Dan penting diketahui bahwa sebelum Ia mengajar murid-muridnya berdoa, Yesus sendiri selalu berdoa terlebih dahulu. Pengajaran Yesus tentang doa kepada para muridNya, mau menekankan kepada kita tentang dua hal mendasar di dalam doa, yaitu: apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus kita yakini. Pertama, Apa yang harus kita lakukan? Kita tahu bahwa Yesus menggunakan tiga kata kerja untuk mendorong para murid berdoa kepada Allah BapaNya. Minta, cari dan ketok! Mintalah! Ketika kita meminta kepada Bapa, berarti kita mengakui bahwa Allah Bapa adalah sumber segala berkat yang ...

Hati yang membebaskan

sejenak berwawan hati di parkiran Basilika St. Sixtus, Ars, Francis Matius 9,9-13 Bacaan Injil mengetengahkan kepada kita salah satu rasul Yesus bernama Matius. Adalah Lewi, nama aslinya sebelum menjadi anggota kelompok rasul. Ia adalah seorang pemungut cukai yang kaya dalam hal harta. Dikisahkan dalah kitab suci bahwa dia mengadakan jamuan makan bersama, untuk Yesus dan para pemungut cukai atau petugas pajak. Kita tahu bahwa pada masa itu, orang cenderung tidak suka berurusan dengan petugas pajak. Petugas pajak dicap sebagai orang yang tidak jujur; bukan hanya menipu rakyat, mereka juga mengelabui pemerintah. Mereka dianggap memperkaya diri dengan mencari untung dari orang kaya yang tidak mau membayar pajak dengan semestinya. Selain itu, mereka juga dipandang sebagai kaki-tangan penjajah Romawi. Saudari dan saudaraku, Anda bisa membayangkan dan bertanya: sejatinya Matius bahagia atau tidak dalam hidupnya? Dan Yesus tahu apa yang dirasakan oleh Matius sebenarnya. Ada kerinduan yang...

Sakramen perkawinan, komitmen seumur hidup

Sepasang belibis di tepi kanal, Paray-le-Monial, Francis  Matius 19:3-12 Suatu kali ada seorang teman saya mengungkapkan isi hatinya begini, “Romo, beberapa kali saya ikut dalam upacara perkawinan Katolik di Gereja. Awalnya saya agak canggung karena harus masuk rumah ibadat dan dengan upacara yang amat formal. Tetapi kalau saya amat-amati perkawinan dalam Gereja Katolik itu amat-amat mengesankan, mengagumkan dan bukan suatu upacara yang asal-asalan atau main-main”. Saudari dan saudaraku, bagaimana perasaanmu ketika mendengarkan ungkapan hati seperti itu? Saat itu, spontan saya merasa bangga sebagai orang Katolik. Lalu teman saya itu menyambungnya lagi. “Awalnya saya juga terheran-heran mengapa untuk menikah saja harus ada persiapan semacam kursus-kursus segala. Saya pikir orang Katolik ini hanya mengada-ada, bikin repot saja calon pengantin dan mencari-cari sensasi saja. Tetapi saya pikir benar juga bahwa sebuah keluarga itu tidak serta merta terbentuk begitu saja, makanya sebu...

Hidup yang dibagikan sebagai berkat

sebuah kedai di sekitar Kastil Gandolfo, Roma  Yohanes 6:1-15 Adalah sebuah kisah yang amat dikenal dalam Kitab Suci: Yesus mengetengahkan kepada kita sebuah situasi konkrit manusiawi bahwa mereka yang berbondong-bondong mengikuti Yesus membutuhkan makan. Kebutuhan akan makanan adalah sebuah kebutuhan primer manusia yang mutlak harus dipenuhi. Kebutuhan akan makanan juga bisa kita perluas arti atau maknanya bukan sekedar kebutuhan akan makanan jasmani, tetapi juga kebutuhan akan makanan rohani. Semua dari kita jelas masih harus mengusahakan untuk memenuhinya, setiap hari, baik itu yang jasmani maupun yang rohani. Tetapi bagaimana dengan mereka yang tidak mampu atau mengalami kesulitan untuk mencukupkan kebutuhan makanan mereka. Entah karena secara jasmani mereka sakit, tidak punya pekerjaan, miskin, dst. Maupun mereka yang mengalami kelaparan secara rohani. Mereka yang sedang bermasalah dengan pribadinya, karena ketertutupannya sendiri, karena keegoisannya. Mereka yang diterlan...

Belas Kasih-Nya menyembuhkan

Matius 9:32-38 Injil Tuhan pada hari ini menawarkan dua pengajaran mendasar bagi kita: Pertama adalah ajaran belas kasih. Rasa belas kasih Yesus tampak dalam empat mujizat yang berturut-turut: Yesus membangkitkan orang mati, memulihkan orang sakit pendarahan, menyembuhkan orang buta, dan kini Ia menyembuhkan orang bisu. Sikap belas kasih yang diteladankan Yesus bagi kita amatlah konkrit, yaitu menerima semua orang apa adanya, bahkan mereka yang berada di ambang batas kehidupannya. Dikisahkan bahwa ada orang yang membawa seorang bisu yang kerasukan setan. Belas kasih yang bersumber dari salib Yang kedua adalah sikap murah hati. Sikap murah hati dapat kita rasakan melalui prinsipnya yang kokoh untuk tidak pernah berhenti berbuat baik, meski dihadapkan pada cibiran dan cercaan. Kita bisa mencermati dua tanggapan atau reaksi mereka di hadapkan pada mukjizat, Yesus yang menyembuhkan orang bisu: antara KAGUM DAN MENCIBIR. Kita tahu bahwa setelah setan itu diusir, orang itu dapat berbicar...

Tak cukup hanya dengan khawatir

Matius 6:24-34 Dan mari sejenak kita melihat hidup kita dalam terang Injil. Salah satu pernyataan Yesus adalah: Janganlah kuatir akan hidupmu. Apakah saat ini Anda sedang merasa kuatir, cemas atau digelisahkan oleh sesuatu? Katakan ya atau tidak dalam hatimu, sesuai yang sedang Anda alami saat ini. OK. sebuah kursi tua di sudut halaman biara benediktin di Farfa, Italia Saudari dan saudaraku, disadari atau tidak, kekuatiran dapat merubah suasana hati atau mood. Bisa saja menghilangkan kegembiraan, ketenangan, menciptakan ketegangan; mengendorkan konsentrasi, membuat kita mempertanyakan segala sesuatu. Dan yang amat membahayakan bahwa kekuatiran mengikis kepercayaan kita pada sesama dan mempertanyakan kehadiran Tuhan dalam hidup. Tidak berarti bahwa kita tidak perlu merasa kuatir atau cemas. Perasaan kuatir adalah wajar dan sangat manusiawi. Kita pun bisa melihat nilai positifnya, misalnya: kuatir sebagai ungkapan perhatian; saya kuatir akan keselamatan diri ataupun orang lain. Keku...

Cahaya dan Suara dalam perjalanan hidup saya dan Anda

Melihat dan mengenali kota Roma dari puncak bukit  Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18; Rm 8:31b-34; Mrk 9:2-10 Pada hari ini, Minggu pekan II masa Prapaskah, dikenal sebagai hari Minggu Transfigurasi Kristus. Bacaan-bacaan hari ini menyajikan kepada kita suatu pendakian “gunung rohani" bersama Yesus untuk memandang cahaya kemuliaan Allah dengan wajah manusiawi-Nya dan mendengarkan suara yang berseru “Inilah Anak-Ku terkasih, dengarkanlah Dia!” *** Suatu ketika, seorang seminaris datang mengetuk kamar saya. Rasanya untuk pertama kalinya ini, ia menemui saya. Setelah masuk, ia menuturkan kisahnya selama mengikuti latihan sepakbola sore hari itu, Rabu. Sebuah benturan keras telah terjadi atas dirinya rekannya di lapangan. Ia terjatuh, terguling dan penuh dengan lumpur ditubuhnya (maklum lapangan bola saat itu masih amat memprihatinkan). Ia berhenti sejenak berkisah, ia membuka kacamata hitamnya. Sayapun melepaskan senyum yang sejak ia masuk, saya tahan-tahan. Dalam hati saya hanya bertany...

Jangan Mengabaikan Cara!

Markus 1:40-45 Ada banyak faktor yang menentukan bagus atau tidaknya gambar yang dihasilkan ketika seseorang memotret. Keberadaan objek, situasi saat gambar diambil dan juga siapa yang berperan membidik gambar. Di sini penting sekali soal cara. Kita tidak bia mengabaikan soal cara. Betapa banyak orang gagal dalam melakukan sesuatu, bukan karena ia tidak punya kemampuan atau ketrampilan untuk melakukannya, tetapi karena ia tidak tahu cara bagaimana melakukan apa yang mesti dilakukannya. Terkadang maksud yang baik ketika disampaikan dengan cara yang salah atau pada waktu yang tidak tepat, maka tak jarang juga akan menimbulkan persoalan, bahkan tidak membuahkan hasil. Demikian pun dengan seluruh hidup Yesus dan apa yang Dia lakukan dalam karyanya, pun tak lepas dengan yang namanya cara. Setidaknya kita bisa mencermati bacaan Injil hari ini. Kisah ini sangat menarik. Ada beberapa hal yang dapat kita simak. Pertama, konteks bacaaan adalah perjumpaan si Kusta dan Yesus; situasi di tengah...

Apa yang Kamu cari?

1Sam 3:3b-10.19; 1Kor 6:13c-15a.17-20; Yoh 1:35-42 Hari ini Minggu pekan II Biasa tahun B. sebuah pertanyaan mendasar untuk kita: "Apa yang kamu cari?" Adalah sebuah pertanyaan yang sangat mendasar bagi siapapun. Bisa gampang dan juga bisa amat sulit menjawabnya. Saya mencermati bahwa pertanyaan ini lama-lama akan menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Mengapa? (1) Tidak sadar dalam pencariannya. (2) Tidak tahu dengan jelas apa yang dicari. (3) Merasa telah menemukan.Yesus hari ini juga bertanya kepada dua murid Yohanes. Apa yang kalian cari? Lalu apa jawab mereka? Dimanakah kamu tinggal. Mengamati ornamen di Gereja Katedral Orvieto (2013) Sebuah jawaban yang tampaknya tidak siap (berupa pertanyaan?), mungkin kaget, heran kok tiba-tiba bertanya. Tampak sekali bahwa pertanyaan, seperti sebuah ungkapan yang tidak mengharapkan langsung diterima. Hanya sekedar mengungkapkan rasa ingin tahu. Seseorang yang lebih besar dari Yohanes yang selama ini diajarkannya. Maka merek...