Langsung ke konten utama

Doa, Derma dan Puasa

 Mat. 6:1-6,16-18

Tuhan Yesus melalui SabdaNya hari ini memberikan tiga hal yang menjadi bagian penting dalam hidup beriman kristiani, adalah memberi sedekah, doa dan puasa. Ketiga hal ini kita hayati semata-mata hanya untuk kemuliaan nama-Nya yang kudus.

Berdoa, artinya mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan dengan kesederhanaan dan ketulusan hati kita. Tidak sedikit orang berpikir bahwa berdoa itu harus dengan menggunakan tata bahasa yang baik dan benar, puitis dan menarik perhatian banyak orang. Tuhan tidak melihat hal lahiriah seperti itu. Ia melihat keterbukaan dan kesungguhan hati kita untuk bersatu dengannya. Dengan kata lain: janganlah munafik kalau anda berdoa!

Memberi sedekah, artinya memberi sedekah dengan sembunyi, tanpa mencanangkan karena Bapa melihat yang tersembunyi akan membalasnya. Ini adalah simbol kesahajaan dan kerendahan hati di hadirat Tuhan. Tidak semestinya bila kita menghitung-hitung apa yang sudah kita berikan kepada Tuhan dan sesama. 

Berpuasa, artinya hidup dengan gembira, dan menjauhi hati yang sedih. Selagi Yesus sebagai mempelai masih ada bersama dengan kita sebagai sahabat mempelai maka yang ada hanya sukacita, ketika Yesus sang mempelai mulai  menderita, saat itulah kita sebagai sahabat mempelai berpuasa (Mat 9:15).

Kita yakini bahwa dengan memberi sedekah, berdoa dan berpuasa maka hidup kita akan menjadi semakin serupa dengan Tuhan Yesus Kristus. Mengapa demikian, sebab Dia juga lebih dahulu melakukannya kepada kita karena kasih.

Kardinal Francis Xavier Nguyen Van Thuan, dalam bukunya “Jalan Pengharapan”, menulis: “Menengok masa lalu untuk diratapi adalah tidak berguna. Menengok masa lalu untuk belajar dari situ, sekarang adalah bijaksana. Ingat Tuhan selalu melihat yang tersembunyi dan membalasnya kepadamu”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merindukan Roti Surgawi

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, dan kita memasuki hari yang ke 5, Novena Hati Kudus Yesus. Mari kita mendengarkan dan merenungkan Injil Tuhan menurut St. Yohanes 6:51-58 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan ...

Menjadi gembala bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain

Yohanes 10:27-30 Hari ini adalah HARI MINGGU PASKAH IV, Gereja mendedikasikannya sebagai hari Minggu Panggilan. Suatu hari Minggu yang menandai adanya gerakan doa bersama, bersyukur dan memohon kepada Allah: Panggilan Imam, Bruder dan Suster untuk menjadi pekerja di kebun Anggur Tuhan. Kita ingat bahwa Paus Paulus VI menyatakan bahwa panggilan itu sendiri berhubungan langsung dengan kehidupan seluruh umat beriman, katanya: ”di mana dapat ditemukan banyak panggilan imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang yang menghayati injil dengan tulus.” Panggilan yang subur di suatu tempat menjadi indicator dinamika kehidupan iman, harapan dan kasih dari setiap umat di tempat itu, baik itu sebagai lingkungan, wilayah, paroki maupun keuskupan, dan sekaligus menjadi bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Hari ini, melalui Injil Yohanes 10:27-30, Yesus berbicara tentang Gembala yang baik. Ide tentang Gembala yang baik, rasanya masih faktual di zaman ini, meski terkesan musta...

Yohanes menarik simpati masa karena Yesus yang diimani

Baru saja aku membaca perikopa Injil Yohanes 1:29-34 untuk besok pagi. Sejenak aku pun mengambil waktu untuk membacanya kembali ayat demi ayat dan setelah itu merenungkannya. weekend Salesian, Mei 2014 Tiba-tiba aku sampai kepada kesadaran bahwa aku pernah menceritakan tentang kehebatan sesuatu bahkan tentang diriku sendiri dengan rasa amat bangga kepada orang lain. Mungkin orang yang mendengarku kagum, tetapi mungkin juga sebaliknya: muak atau jengkel. Heeee maaf yaa sahabatku atas keangkuhanku, atas kesombonganku. Perikopa yang kubaca mengajakku untuk mengakui bahwa Yohanes sungguh luar biasa. Dia menarik simpati rakyat dan banyak orang mengikuti gerakan barunya mempersiapkan kedatangan Mesias. Hidupnya menyampaikan pesan yang menarik. Dia mendirikan komunitas baru: komunitas yang menantikan zaman baru, pun bisa dipahami oleh orang-orang Yahudi saat itu. Prinsipnya tegas - Dia selalu menunjuk pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya dan tidak pernah mengambil kesempata...