Mat. 11:25-30
Kuk adalah gandar, palang kayu yang memiliki lengkungan diatasnya yang dipasangkan ke leher kedua hewan ternak (keledai, lembu, kerbau) supaya lebih ringan menarik kereta, muatan pedati atau membajak tanah. Kuk adalah gandar yang biasa dipasang pada leher untuk menarik . Artinya bahwa di satu sisi bahwa kuk sebuah beban tetapi di sisi lain juga sebagai sesuatu yang mempermudah atau membuat beban menjadi ringan. Kuk dalam tradisi orang Yahudi menggambarkan atau mengekspresikan penyerahan diri kepada Allah (submission to God). Orang Yahudi biasanya berbicara mengenai kuk hukum, kuk perintah Allah, kuk kerajaan, dan kuk Allah.
Bagi Yesus, kuk yang akan dipikulkan atau dipasangkan kepada kita adalah mudah, juga bisa berarti “pas” atau “cocok”. Dengan mengenakan yuk yang Yesus pasangkan kepada kita, Tuhan Yesus sebenarnya mengundang masing-masing kita untuk menyatukan diri denganNya. Dia juga berkata bahwa “bebanKu ringan”.
Seperti seseorang yang menggendong orang yang cacat, tak jarang dipandang sebagai suatu pekerjaan yang berat dan melelahkan. Tetapi bisa jadi juga bukan merupakan sebuah beban, karena yang digendong adalah saudaranya sendiri. Di sini kita belajar bahwa beban apa pun akan terasa ringan dan mengenakan jika dilakukan dengan cinta.
Yesus mengundang kita untuk memikul kuk bersamaNya, untuk mempersatukan kehidupan kita dengan kehidupanNya, kehendak dan hati kita dengan kehendak dan hati Yesus sendiri. Memikul kuk bersama Yesus berarti dipersatukan denganNya dengan salibNya dalam suatu relasi cinta, kepercayaan dan ketaatan.
Ketika kita memikul beban kehidupan kita bersama Yesus, Ia juga memikul beban kita dan berjalan bersama kita serta memberikan kekuatan kepada kita untuk mengikut Dia di jalanNya – jalan cinta kasih. Kuk dalam hal ini berarti tak lain adalah salib hidup kita. Bukan sebagai sebuah beban lagi, karena di balik salib, kemenanganlah yang akan meringankannya.
Yesus juga mengundang kita belajar dari padaNya, mengikuti ajaran-ajaranNya, menuruti perintahNya, menempuh jalan kehidupan yang Yesus tunjukkan. Terlebih karena ia lemah lembut dan rendah hati. Yesus tahu bahwa ketika kita berbeban berat (entah karena sakit, penderitaan, kesulitan dst), kita seperti kehilangan kelembutan hati dan lebih mudah marah. Dengan kemanusiaanNya, Yesus juga mengalami penderitaan sebagai beban hidup ketika ia mengalami sengsara, kematian. Tetapi kerendahan hati Yesus membuahkan kemuliaan dalam kebangkitan. Pun dengan dinamika hidup kita, kita juga ditantang untuk menjadi rendah hati menghadapi setiap kesulitan, bahkan penderitaan, dan berbesar hati dengan harapan akan melewatinya dan menjumpai suka cita dan kegembiraan.
Selamat Pesta Hati Kudus Yesus.
Kuk adalah gandar, palang kayu yang memiliki lengkungan diatasnya yang dipasangkan ke leher kedua hewan ternak (keledai, lembu, kerbau) supaya lebih ringan menarik kereta, muatan pedati atau membajak tanah. Kuk adalah gandar yang biasa dipasang pada leher untuk menarik . Artinya bahwa di satu sisi bahwa kuk sebuah beban tetapi di sisi lain juga sebagai sesuatu yang mempermudah atau membuat beban menjadi ringan. Kuk dalam tradisi orang Yahudi menggambarkan atau mengekspresikan penyerahan diri kepada Allah (submission to God). Orang Yahudi biasanya berbicara mengenai kuk hukum, kuk perintah Allah, kuk kerajaan, dan kuk Allah.
Bagi Yesus, kuk yang akan dipikulkan atau dipasangkan kepada kita adalah mudah, juga bisa berarti “pas” atau “cocok”. Dengan mengenakan yuk yang Yesus pasangkan kepada kita, Tuhan Yesus sebenarnya mengundang masing-masing kita untuk menyatukan diri denganNya. Dia juga berkata bahwa “bebanKu ringan”.
Seperti seseorang yang menggendong orang yang cacat, tak jarang dipandang sebagai suatu pekerjaan yang berat dan melelahkan. Tetapi bisa jadi juga bukan merupakan sebuah beban, karena yang digendong adalah saudaranya sendiri. Di sini kita belajar bahwa beban apa pun akan terasa ringan dan mengenakan jika dilakukan dengan cinta.
Yesus mengundang kita untuk memikul kuk bersamaNya, untuk mempersatukan kehidupan kita dengan kehidupanNya, kehendak dan hati kita dengan kehendak dan hati Yesus sendiri. Memikul kuk bersama Yesus berarti dipersatukan denganNya dengan salibNya dalam suatu relasi cinta, kepercayaan dan ketaatan.
Ketika kita memikul beban kehidupan kita bersama Yesus, Ia juga memikul beban kita dan berjalan bersama kita serta memberikan kekuatan kepada kita untuk mengikut Dia di jalanNya – jalan cinta kasih. Kuk dalam hal ini berarti tak lain adalah salib hidup kita. Bukan sebagai sebuah beban lagi, karena di balik salib, kemenanganlah yang akan meringankannya.
Yesus juga mengundang kita belajar dari padaNya, mengikuti ajaran-ajaranNya, menuruti perintahNya, menempuh jalan kehidupan yang Yesus tunjukkan. Terlebih karena ia lemah lembut dan rendah hati. Yesus tahu bahwa ketika kita berbeban berat (entah karena sakit, penderitaan, kesulitan dst), kita seperti kehilangan kelembutan hati dan lebih mudah marah. Dengan kemanusiaanNya, Yesus juga mengalami penderitaan sebagai beban hidup ketika ia mengalami sengsara, kematian. Tetapi kerendahan hati Yesus membuahkan kemuliaan dalam kebangkitan. Pun dengan dinamika hidup kita, kita juga ditantang untuk menjadi rendah hati menghadapi setiap kesulitan, bahkan penderitaan, dan berbesar hati dengan harapan akan melewatinya dan menjumpai suka cita dan kegembiraan.
Selamat Pesta Hati Kudus Yesus.

Komentar
Posting Komentar