Langsung ke konten utama

Katakanlah secara Sederhana Isi Hatimu.

Tuhan Yesus dalam SabdaNya hari ini mengajar kita para muridNya untuk berdoa. Yesus berkata, “Bila kalian berdoa janganlah bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah...Bapamu tahu apa yang kalian perlukan, sebelum kamu meminta kepadaNya.” Tentu saja Yesus mengharapkan agar para kita para muridNya dapat berdoa bukan dengan kata-kata yang panjang tetapi dengan penuh penyerahan diri, pasrah pada Bapa di Surga.  Allah Bapa begitu baik dan sayang akan kita anak-anakNya dan Dia tahu serta peduli dengan anak-anakNya. Yesus mengajar dalam doa kita untuk menyapa Allah sebagai “Bapa, maka dalam doa kita menyebutNya "Bapa kami”.

Dalam doa Bapa kami yang diajarkan Tuhan Yesus pada kita terdapat tujuh intensi antara lain: Dimuliakanlah namaMu, Datanglah KerajaanMu, Jadilah kehendakmu di atas bumi seperti di dalam surga, Berilah kami makanan kami yang secukupnya, Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami, Jangan membawa kami ke dalam pencobaan, Bebaskanlah kami dari yang jahat.

Itulah ke-tujuh intensi yang sempurna dari doa Bapa Kami. Tidak lupa juga, setelah selesai mengajar doa Bapa kami, Yesus masih mengingatkan kita bahwa doa-doa itu menjadi sempurna kalau setiap pribadi mewujudkan cinta kasih satu sama lain dalam suasana saling mengampuni.

Doa Bapa kami memiliki kekuatan untuk mengubah hidup seseorang sebagai pribadi, dan dengan sendirinya  juga transformasi hidup rohani yang kita alami akan mempengaruhi hidup pribadi sesama.

Kita terus diundang dan bahkan didesak dengan Sabda Tuhan hari ini agar kita lebih bersemangat lagi dalam hidup doa. Allah menghendaki doa yang sederhana tetapi intensinya jelas seperti doa Bapa kami. Dengan kata lain, berdoalah tanpa henti! Katakanlah secara sederhana isi hatimu. Bapamu yang ada di Surga pasti mendengarmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merindukan Roti Surgawi

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, dan kita memasuki hari yang ke 5, Novena Hati Kudus Yesus. Mari kita mendengarkan dan merenungkan Injil Tuhan menurut St. Yohanes 6:51-58 Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan ...

Menjadi gembala bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain

Yohanes 10:27-30 Hari ini adalah HARI MINGGU PASKAH IV, Gereja mendedikasikannya sebagai hari Minggu Panggilan. Suatu hari Minggu yang menandai adanya gerakan doa bersama, bersyukur dan memohon kepada Allah: Panggilan Imam, Bruder dan Suster untuk menjadi pekerja di kebun Anggur Tuhan. Kita ingat bahwa Paus Paulus VI menyatakan bahwa panggilan itu sendiri berhubungan langsung dengan kehidupan seluruh umat beriman, katanya: ”di mana dapat ditemukan banyak panggilan imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang yang menghayati injil dengan tulus.” Panggilan yang subur di suatu tempat menjadi indicator dinamika kehidupan iman, harapan dan kasih dari setiap umat di tempat itu, baik itu sebagai lingkungan, wilayah, paroki maupun keuskupan, dan sekaligus menjadi bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Hari ini, melalui Injil Yohanes 10:27-30, Yesus berbicara tentang Gembala yang baik. Ide tentang Gembala yang baik, rasanya masih faktual di zaman ini, meski terkesan musta...

Yohanes menarik simpati masa karena Yesus yang diimani

Baru saja aku membaca perikopa Injil Yohanes 1:29-34 untuk besok pagi. Sejenak aku pun mengambil waktu untuk membacanya kembali ayat demi ayat dan setelah itu merenungkannya. weekend Salesian, Mei 2014 Tiba-tiba aku sampai kepada kesadaran bahwa aku pernah menceritakan tentang kehebatan sesuatu bahkan tentang diriku sendiri dengan rasa amat bangga kepada orang lain. Mungkin orang yang mendengarku kagum, tetapi mungkin juga sebaliknya: muak atau jengkel. Heeee maaf yaa sahabatku atas keangkuhanku, atas kesombonganku. Perikopa yang kubaca mengajakku untuk mengakui bahwa Yohanes sungguh luar biasa. Dia menarik simpati rakyat dan banyak orang mengikuti gerakan barunya mempersiapkan kedatangan Mesias. Hidupnya menyampaikan pesan yang menarik. Dia mendirikan komunitas baru: komunitas yang menantikan zaman baru, pun bisa dipahami oleh orang-orang Yahudi saat itu. Prinsipnya tegas - Dia selalu menunjuk pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya dan tidak pernah mengambil kesempata...